Batam Basis Indusri Maritim

Pembukaan Pulau Batam sebagai basis logistik dan operasional Pertamina bagi usaha yang berhubungan dengan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di awal dekade 1970-an, menandai dimulainya industrialisasi di Batam, yang kemudian dilanjutkan dengan keluarnya Keputusan Presiden (Kepres) No. 74 tahun 1971, No. 41 tahun 1973, No 33 tahun 1974, kemudian Kepres No.41 tahun 1978 tentang penetapan seluruh kawasan industri di Batam sebagai wilayah bonded warehouse. Di tahun 1992, wilayah Batam berdasarkan Kepres No.28 tahun 1992 diperluas sebagai bonded zone (kawasan usaha/ kawasan berikat).

Setelah kurun waktu tertentu dalam penantian, Pada 25 Juni 2006 lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menanda tangani framework agreement pembentukan zona ekon omi khusus (Special Economic Zone—SEZ) Batam, Bintan dan Karimun. Kesepakatan tersebut diyakini banyak pihak akan berpotensi mendorong perkembangan ekonomi Batam dan sekitarnya, dan juga sebagai daya tarik baru bagi aliran investasi langsung (Foreign Direct Investment/FDI).

Namun sebagaimana gelar kebanggaan dan atribut-atribut Batam lainnya, SEZ ternyata mengalamai kesamaan… tak juga kunjung direaslisasikan! Akibatnya sudah bisa ditebak, ketidakpastian (uncertainty ) status hukum ini kembali menjadi batu sandungan dan terus memperburuk iklim investasi di Batam. Hingga akhir tahun 2006 jumlah penanam modal asing (PMA) tercatat sebanyak 30 perusahaan dengan investasi keseluruhan sebanyak 800 perusahaan dengan nilai sebesar US$ 7,5 miliar. Secara kumulatif, jika dibandingkan pada priode yang sama tahun 2003 sesungguhya terjadi penurunan. Tahun 2003 terjadi penambahan 35 PMA dengan jumlah PMA yang beroperasi sebanyak 600 perusahaan dengan nilai investasi sebesar 49,6 miliar dolar AS.

Batam seharusnya menjadi lokomotif sedangkan wilayah lainnya menjadi gerbong—dimana pengembangan Batam harus simultan dengan pengembangan wilayah-wilayah lainnya yang menjadi daerah belakang Batam, misalnya apabila di Batam dikembangkan industri manufaktur, maka wilayah lainnya dapat dikem bangkan agribisnis (bahan mentah atau bahan baku) yang akan memasok kebutuhan Batam. Terlebih Batam sebagai wilayah kepulauan memiliki potensi yang besar pada sektor maritim. Panjang garis pantai Batam adalah sekitar 1.261 km dengan kawasan laut sekitar 289.300 ha meliputi hampir 74 persen dari total daerah administrasi Batam dan memiliki sekitar 325 pulau.

Pada umumnya, sumber daya laut dan pesisir di sekitar Batam terdiri dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui seperti ikan, hewan bercangkang (crustaceans), terumbu karang, rumput laut, dan bakau, serta sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti pasir dan mineral, selain itu juga terdapat jasa lingkungan laut dan peisisr yang dimanfaatkan seperti pariwisata dan transportasi laut. Potensi laut dan pesisir Batam belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan karena fokus dari pembangunan masih pada daerah daratan, seperti industri, transportasi, perdagangan dan jasa serta perumahan. Sebagai konsekuensinya, pembangunan sumber daya laut dan pantai belum banyak diperhatikan.
Hal ini mungkin dikarenakan Batam menerapkan broad based strategy, yang didasarkan pada faktor-faktor keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya, bukan berfokus pada spesialisasi produk. Padahal industrialisasi seharusnya dipahami sebagai pembangunan dan pertumbuhan output di semua sektor-sektor ekonomi yang ada, termasuk pertanian, dengan industri manufaktur sebagai the leading sector sehingga terjadi inter – industry linkages yang kuat antar sektor maupun sub-sektor ekonomi, dengan tujuan utama meningkatkan nilai tambah ekonomi di Batam—sebagai pulau utama (Mainland Economy) maupun bagi pulau-pulau sekitar (Hinterland economy ). Akibatnya proses industrialisasi di Batam tidak dinikmati oleh masyarakat yang bermukim di pulau sekitar Batam. Adanya backwashing effect sebagai akibat keadaan tersebut membuat wilayah belakang di luar Batam menjadi wilayah pinggiran sementara Batam menjadi wilayah pusat. Wilayah pinggiran menjadi tergerus, sementara wilayah pusat semakin maju, konidisi ini mengakibatkan ketidak seimbangan sosial.

Sementara keterkaitan ekonomi yang berhasil di bangun Batam dengan daerah lain di wilayah Indonesia pada akhirnya praktis hanya dalam hal penyerapan tenaga kerja, yang sesungguhnya juga memiliki persoalan yang tidak kalah rumit. Melimpahnya tenaga kerja yang tidak seimbang dengan lapangan kerja yang tersedia ternyata dibarengi dengan kualitas dari mayoritas pencari kerja yang tidak sebanding dengan tuntutan pasar tenaga kerja. Konsekuensinya, selain terus menambah jumlah penganguran, juga meningkatkan sektor informal, dan pada sisi lain mendorong tingkat kriminalitas dan menjamurnya pemukiman liar yang menambah daerah kumuh (slum area)

Dinamika lingkungan sosial ini diindikasikan oleh adanya biaya hidup yang tinggi yang disebabkan oleh adanya tekanan-tekanan cost push inflation dan adanya dorongan untuk meningkatkan UMK (Upah Minum Kota), seperti terjadinya tuntutan buruh untuk penyesuai upah dengan KLH (Kebutuhan Hidup Minimum), sampai dengan tututan fasilitas lainnya, seperti cuti haid bagi buruh perempuan, biaya transport dll, tuntutan-tuntutan buruh ini seringkali berujung dengan tejadinya pemogokan, sehingga investor khawatir aksi-aksi ini kelak dapat menghentikan aktivitas perusahaan, Ini tentu sangat mengganggu dan mengurangi kepercayaan penanam modal dan kelangsungan iklim investasi.

Di samping itu melimpahnya tenaga kerja yang tidak sepenuhnya mampu diserap pasar tenaga kerja yang tersedia, menimbulkan spin-off effect, dimana (selain industri pendukung) berkembang juga kegiatan ekonomi lain yang tidak langsung terkait dengan kegiatan industrinya, yakni sektor informal. Ini terlihat dari komposisi tenaga kerja di Batam, dari hampir 700 ribu penduduk Batam hanya sekitar 174 ribu bekerja di sektor formal, sebagian besar sisanya bekerja di sektor informal.

Dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa Batam merupakan daerah kepulauan maka pengembangan industri berbasis maritim perlu menjadi fokus selanjutnya bagi Batam, tetapi dalam pengertian luas, artinya bukan hanya downstream industries yang memproses komoditi maritim, namun juga midstream atau supporting industries (primer maupun skunder) yang berorientasi ke sektor maritim. Misalnya, industri-industri penujang primer yang membuat mesim-mesin serta alat-alat penangkap ikan dan input-input lainnya bagi keperluan proses produksi di sektor maritim, termasuk industri-industri yang membuat berbagai ukuran dan jenis kapal laut untuk kegiatan perikanan. Selain itu, industri-industri resources based lainnya, dan industri-industri yang padat karya namun produktif, yakni menghasilkan nilai tambah atau memiliki potensi ekspor yang besar, seperti industri pengalengan, pembuatan makanan berbasis ikan perlu tetap dikembangkan.

Disamping itu juga harus dibangun keterkaitan produksi yang kuat, baik kedepan (forward production linkages) maupun ke kebelakang (backward production linkages) dari industri yang dikembangkan. Selanjutnya, melalui keterkaitan produksi, keterkaitan investasi dan keterkaitan pendapatan yang kuat, apabila sektor maritim dan industri-industri penunjang primer dan sekunder berkembang dengan baik, maka kegiatan-kegiatan ekonomi non-industri juga akan berkembang dengan sendirinya untuk dapat menyerap surplus pendapatan dari sektor maritim dan sektor industri manufaktur. Dengan demikian, maka hal itu bisa mengurangi kebocoran (leakage) di dalam proses pembangunan ekonomi di Batam seperti yang terjadi selama ini.

Yang tidak kalah penting lagi adalah dengan re-industrialisasi, Otorita Batam dan Pemerintah Kota Batam dapat melakukan peran bersama untuk mendorong Batam ke tahap daya saing yang lebih tinggi karena Batam berpotensi untuk memiliki keunggulan ganda. ***

*)Johannes Kennedy, Ketua Umum Kadin Provinsi Kepri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s