Nasip Pendidikan Kita

Terlansirnya berita tentang penolakan orang tua terhadap try out UN yang dilaksanakan di beberapa daerah, menarik untuk disimak. Tidak sedikit orang tua yang merasa tidak mampu membayar uang try out, meski biaya itu ”tidak seberapa.
Penolakan itu mengingatkan penulis akan ”try out akbar” yang dilakukan se-Sumatera, tahun lalu dalam kerjasama dengan Bimbingan Belajar Primagama. Sebuah ”gebrakan”. Di Batam, semua siswa SMP-SMA, yang ribuan, ”dikumpulkan” bagai di sebuah stadion sepak bola. Dengan pengawasan seadanya, dan jarak yang sangat berdekatan bahkan berhimpitan, para pelajar berusaha mengerjakan (bersama-sama), soal yang disebut try out itu. Kedua peristiwa ini memunculkan pertanyaan: apa konsep di balik try out? Bagaimana kaitan antara try out dan rangkaian KTSP? Mengapa ”bimbel” begitu ”laris” di negeri ini, menjelang UN?

Jalan Pintas
Untuk menghadapi sesuatu, apalagi Ujian Akhir Nasional, dibutuhkan persiapan. Ia dapat menjadi ukuran akhir untuk menilai keberhasilan seseorang. Dengan kata lain, perjuangan selama enam, tiga, atau dua tahun bakal diukur dalam pelaksanaan ujian selama dua atau tiga hari.

Bukan mustahil, kehadiran UAN sangat merisaukan dan menegangkan. Di tengah arah pendidikan yang tidak jelas, perobahan kurikulum yang terkesan ”serba mencoba”, tidak sedikit siswa yang merasa tidak pasti menghadapi ujian. Adakah apa yang diajarkan guru, sesuai dengan pengembangan silabus sebagaimana diamanatkan KTSP bakal ‘ditanyakan’ dalam ujian?

Kerisauan inilah yang memberi tempat terhadap Bimbingan Belajar. Di mana-mana, hampir di setiap sudut kota terdapat Bimbingan Belajar. Ada yang sudah punya level nasional, seperti Primagama. Ada yang sekedar inisiatif dari guru atau orang yang ”dilatih jadi guru” untuk bisa ”mengajar” (bukan mendidik).

Dengan bekal pengalaman dari tahun ke tahun tentang soal, tidak sedikit Bimbel cukup kompeten untuk meprediksikan soal. Apalagi, setiap tahun selalu diedarkan kisi-kisi soal untuk ujian. Di atas dasar pemahaman dan pengetahuan seperti ini, para siswa dilatih untuk menjawab soal-soal secara benar dan tepat. Bahkan ada ”Bimbel” yang sudah begitu pasti hingga berjanji mengembalikan uangnya, bila akhirnya siswa tersebut tidak lulus ujian.

Strategi seperti ini kelihatan sangat mujarab. Ada kepastian terhadap kelulusan, hingga seorang pemilik seko lah bergengsi (tempat penulis dulu bekerja), pernah punya ide. Menurutnya, selama setahun berjalan, kita melaksanakan KBM dengan berpatok pada kurikulum asing. Baru dua atau tiga bulan sebelum UAN, anak-anak ”diforsir” dengan soal-soal ujian agar semuanya lulus. Malah, menurutnya, dua bulan terakhir, bimbel terkenal bisa diminta partisipasinya.

Asal Menjawab
Sepintas, cara-cara seperti ini dianggap biasa. Di zaman sekarang dibutuhkan kepastian apakah berhasil atau tidak. Prestasi lulusan 100 persen menjadi sebuah gengsi yang sangat dibanggakan. Nama sekoalah bakal terangkat. Namun, apakah cara-cara seperti itu mendidik? Bagaimana out put yang dihasilkan dalam proses seperti ini?

Mustahil bertanya demikian. Yang ”diajarkan” pada Bimbel, bukan terutama mengasah kecerdasan untuk dapat berpikir, menganalisa, mengevaluasi. Lebih tidak lagi digerakan relungnya untuk dapat melihat dunia dengan hati. Apalagi dengan mengedepankan model pendidikan yang membebaskan, mencerahkan, penuh egalitarisme, dan demokratis. Tidak. Yang ingin dikejar, sejauh mana siswa itu ”lincah, gesit” menghubungkan pertanyaan dengan alternatif jawaban yang diajukan. Anak lantas dilatih menjadi mesin atau bagai lumba-lumba yang begitu tepat mengetahui jawaban setelah pelbagai in put sebelumnya memang diarahkan untuk mencapai jawaban yang tepat.

Bongkar Pasang
Apakah model pendidikan atau lebih tepat pengajaran seperti ini punya dampak yang positif dalam dunia nyata? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Di dunia yang selalu berputar dengan sebuah gerakan yang lebih sering linear daripada sirkular, problem yang hadir selalu baru. Dengan demikian jawaban yang sudah berlaku atau pernah digunakan, jarang sekali diulang. Sebaliknya, ada selalu hal baru. Karena itu, mustahil siswa yang diajar ”menghafal”, bisa dibayangkan betapa sulitnya menghadapi dunia nyata seperti ini. Yang terjadi hanyalah sebuah frustrasi kemudian karena ternyata ”kepintaran” di atas kertas, tidak menjamin kecerdasan dalam menghadapi pelbagai problem hidup.

Jelas, model pendidikan seperti ini, hanya akan menjadikan pribadi-pribadi yang tidak eksploratif, inovatif, apalagi kreatif. Pribadi yang disebutkan di sini, tidak dibiasakan untuk menemukan jawabannya sendiri dari pelbagai problem yang dihadapi. Tidak. Ia diajarkan untuk menghafal jawaban yang sama dari aneka pertanyaan yang berbeda. Sebuah kemustahilan, tetapi itulah yang terjadi. Sebuah metode yang bukan mustahil nampak dalam praksis kehidupan kemudian. Seseorang yang bekerja pada sebuah usaha atau kantor pemerintah, akan sangat kuat pemahaman untuk selalu menjadikan semua anggarannya sesuai dengan jawaban akhir. Bila tidak sesuai, ia lantas mulai mengadakan mark up. Hanya dengan demikian terjadi ”kesesuaian” antara pemasukan dan pengeluaran. Padahal itu bukanlah yang terpenting. Ada yang lebih utama, tentang bagaimana proses itu berlangsung.

Model pendidikan (atau lebih tepat pengajaran) seperti ini mengekspresikan realitas bangsa kita. Di satu pihak kita memiliki kegelisahan terhadap realitas bangsa, tetapi pada sisi lain, kita kehilangan rencana baik jangka pendek dan apalagi jangka panjang. Yang ada hanyalah manajemen bongkar pasang serba darurat. Kita hanya bisa menyadari akalau ada masalah setelah ada ”tragedi”. Padahal, segala sesuatu bisa diprediksi.

Hal yang sama terjadi dengan kurikulum. Fenomen bongkar pasang sangat nyata. Memang hal itu mengindikasikan kegelisaan untuk menciptakan sebuah bangsa yang lebih baik. Sayangnya, jalan keluar yang ditawarkan terkesan instan dan tidak tepat sasar. Peningkatan mutu pendidikan hanya diukur dengan tiga mata pelajaran. Padahal, pendidikan sebuah proses. (bersambung)

*)Robert Bala, Staf Pengajar Bahasa Spanyol pada Universitas Trisakti Jakarta. Staf PT Karya Sejahtera Semesta (Outsourcing).

5 thoughts on “Nasip Pendidikan Kita

  1. kunci keberhasilan pendidikan ada pada guru dan dukungan orang tua . Guru mengajar dengan perbagai metode berbeda meski materi sama. Orang tua harus selalu belajar dan mengikuti perkembangan anak. Kesesuaian pendidikan antara di sekolah dengan di rumah akan membawa anak kepada karakter yang baik, jiwa sehat dan berprestasi sesuai kemampuannya

  2. ada beberapa hal yang membuat pendidikan berhasil, dan kita bisa melihat singapore sebagai tetangga terdekat mereka tidak terlalu dibebani dengan berbagai macam materi sekali gus tapi lebih menjurus dan metode pemelajaran yang menarik, gak seperti kita sekarang kok sepertinya kejar target.

  3. saya pernah menjajaki dunia bimbel. Saya sendiri pun mulanya ada rasa tidak setuju dalam hati saya. Memang bimbel hanya melahirkan generasi instant yang tidak lagi mengadopsi filosofi ilmu yang seharusnya diajarkan. Saya hanya bertahan selama 6 bulan. Dari segi pendidikan tidaklah bisa diharapkan untuk mencetak karakter. Sekolah dan orang tualah yang paling berperan membentuk karakter anak. Tapi saya beruntung Pak, sewaktu di bimbel, saya bertemu dengan berbagai macam karakter anak. Saya bertemu dengan banyak anak yang udah mulai protes dengan pengajaran yang biasa saja. mereka sudah bosan dan jenuh. Tak jarang mereka berteriak-teriak dalam kelas seperti anak hiperaktif. orang tua pun menganggap anaknya hiperaktif padahal mereka hanya ingin menyampaikan informasi penting. Seolah di kepala mereka tertulis bahwa ” saya ingin sesuatu yang lain, yang lebih menyenangkan, yang lebih bersemangat, bukan sesuatu yang membuat stres ” .
    Saya rasa saat ini yang anak butuhkan adalah pembelajaran yang menyenangkan. banyak metode yang bisa dipakai. memang kurikulum kita mengacu pada kurikulum Amerika yang menitik beratkan pada padatnya materi. terutama MIPA. Dan yang lebih parah lagi, para orang tua telah berhasil dibentuk opininya selama bertahun-tahun bahwa pelajaran IPA adalah pelajaran bergengsi. Mereka beranggapan jika tidak berhasil dalam pelajaran IPA maka anaknya akan susah hidup. Akibatnya ya kita rasakan sekarang ini. Anak-anak hanya mengejar materi, aspek-aspek lain ditinggalkan. PEngalaman belajar beserta prosesnya tidak menjadi fokus. Jika kita mau belajar pada kurikulum Jepang yang menitikberatkan pada proses dan belajar yang menyenangkan. Tentu generasi yang dihasilkan akan lain. Belajar menjadi kebutuhan. Karena belajar sangat mengasikkan. Metode yang dipakai pun sederhana. Materi hanya sedikit. Yang penting anak-anak mengerti dan ingin belajar terus. Mereka tumbuh menjadi generasi yang kreatif dan inovatif karena proses belajar membuka sistim limbik otak-pusat rasa senang. Oh ya Pak dah baca buku “Totto Chan” belum? klo gak salah yang nulis TETSURO KORAYAKI. Kisah nyata. Bagus banget Pak. tentang dunia pendidikan
    akhirnya saya keluar juga dari bimbel. Karena banyaknilai-nilai dan sistim yang bertentangan dengan hati dan pikiran saya.
    tapi saya tidak punya niat berhenti membantu mereka-mereka yang mengalami kesulitan belajar. Semoga apa yang saya lakukan membawa angin perubahan. amin.
    banyak masalah yang harus kita selesaikan ya Pak. boleh donk Pak saya diajari jadi dosen. Hehe
    klo sekarang saya masih fokus ke pendidikan dasar untuk anak-anak SD dan SMP. keberhasilan kita keluar dari masalah bukan hanya mengkitik terus tetapi lebih dari itu. TAKE ACTION. sekecil apapun kontribusi kita tetaplah akan berarti. paling tidak anak akan punya ingatan indah tentang sejarah belajarnya dan itu akan berpengaruh terhadap masa depannya nanti.
    LIVE NEVER BE THE SAME………bener gak pak?

  4. yah pak masalah pandangan luas itu karena sering membaca. Karena banyak yg saya baca maka saya harus bagi ke orang lain praktekkan
    klo dari membaca kita bisa bantu orang selesaikan masalah. kenapa enggak?
    saya ngajar MAFIA plus bahasa inggris n indonesia.
    he rakus ya….makan banyak lahan orang. padahal saya bukan lulusan pendidikan. murid-murid yang berhasil goal target biasanya saya setel dulu mind set nya. karena orang sukses tuh butuh mental sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s