Menggugat Kepicikan Singapura

Perluasan wilayah yang begitu “spektakuler” oleh Singapura, telah melahirkan aneka kebijakan dan keputusan. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa ada pelbagai masalah yang saling berkaitan dengan ekspor pasir selama ini. Selain sangat murah, nyaris tak berharga, ada hal yang seakan sulit dipahami. Dari sana dapat diterima, mengapa pemerintah Indonesia melalui SK Menteri Perdagangan No 117/MPP/Kep/28/2003, yang diperkuat dengan SK kementrian yang sama No 02/M-DAG/PER/2007 berusaha menghentikan ekspor pasir.
Masalah, apakah pelarangan itu memecahkan masalah yang dihadapi? Agar tidak mengecewakan pemerintah Indonesia, pemerintah Singapura barangkali memberikan tanggapan. Pelbagai penjelasan tentang tidak bakal terjadinya invasi teritori tetap dilansirkan Singapura. Sementara itu, Singapura yang sudah “kecantol” dengan ide perluasan wilayah, bakal melirik China. Meski dengan harga lebih mahal, yang penting ide itu harus tercapai, paling kurang sebelum tahun 2010.

Kebijakan seperti ini agaknya memojokan pemerintah Indonesia. Ia yang mengharapkan Singapura merasa “tertekan” untuk mendorong dialog ternyata tidak tepat sasar. Apalagi Singapura tahu, di tetangganya, Indonesia, semuanya bisa diatur. Pelbagai kebijakan, sekeras apa pun dapat “dilembutkan”. Lebih lagi, memory para pemimpinnya sangat pendek. Desakan dan kesulitan ekonomi, bakal memaksanya untuk membuka kembali ekspor.
Anti-Ekologi
Cara-cara seperti ini, kalau memang menjadi strategi, maka terlihat betapa kecerdasan (atau lebih tepat kelicikan) si Negara Pulau itu. Baginya, dengan kecemerlangan ekonomi, timbunan duit yang tidak sedikitnya berasal dari para konglomerat hitam asal Indonesia, serta jaminan keamanan yang nyaris bisa diperbandingkan dengan tetangganya, menjadikannya bisa “membeli apa saja”.
Untuk hal ini, meski kita besar dan luas secara fisik, kita terpaksa angkat topi. Kita mengakui ketakbedayaan dari “si kecil yang cerdik seperti merpati dan licik seperti ular itu”. Namun, ada hal lain yang semestinya tidak harus terjadi ketika pelakunya adalah negara sekaya dan semakmur Singapura. Pemikiran yang ekologis yang didasarkan pada cara pandang yang lebih global untuk kemudian menentukan tindakan yang lokal (think globally and act locally), semestinya tidak terjadi.
Sebuah negara yang cerdas umumnya sudah meninggalkan dan menanggalkan kelicikan untuk mempercantik diri melalui usaha memperjelek orang lain. Orang Eropa yang sadar lingkungan misalnya menyadari bahwa membebaskan lingkungannya dari polusi dengan memindahkan pabrik polutif merupakan sebuah pembohongan. Dunia kita tetap satu dan sama. Karena itu pemindahan bukannya menyelesaikan masalah. Apalagi polusi yang terjadi di daerah lain juga melanda bumi yang satu dan sama. Dengan demikian pemanasan global dan penghancuran ekologi bakal mempengaruhi iklim secara umum.
Kenyataan seperti inilah yang sedang terjadi dengan Singapura. Napsu menjual kemolekan dan ketampangan sebagai sebuah keunggulan komparatif dan daya dorong wisata, telah menjadikannya begitu arogan dan egois. Puluhan kapal pengeruk pasir begitu bebas melenggang di perairan Indonesia demi mengeruk isi perut Indonesia. Pulau-pulau kecil Indonesia begitu serakah dikeruk isi perutnya, hanya demi menciptakan pulau baru di negara kecil itu.
Apalagi negara kaya itu seakan begitu silap mata melihat bentangan pasir di negara tetangganya. Dengan pelbagai daya, ia bahkan membelinya dengan harga yang nyaris tanpa harga. Dengan hanya 7 dollar Singapura, ia sudah dapat membawa semeter kubik pasir. Sebuah harga yang jauh dari mustahil ketika sebenarnya pemerintah Singapura sendiri mematok 39 dollar Singapura per meter kubik.

Bukan itu saja. Pulau-pulau yang sudah “dikeruk” ditinggal pergi penuh lekukan dan retakan. Tidak pernah terlintas adanya reboisasi untuk tidak menjadikannya begitu merana. Proses seperti ini yang umumnya dilakukan negara “beradab” sama sekali tidak terjadi dengan Singapura. Baginya, yang terutama adalah mempercantik diri. Borok ekologi yang ditinggalkan bakal tidak dilirik oleh siapapun, selain menunggu waktu untuk tenggelam.
Menata Kembali
Kepicikan yang terus terjadi, semestinya cepat dibenahi. Pemerintah Indonesia yang meski agak terlambat bereaksi perlu menyadari bahwa pasir Indonesia hanya bisa akan diimpor lagi oleh Singapura asalkan adanya komitmen merehabilitasi kembali pulau-pulau yang sudah dijarah. Dengan demikian, kerusakan tidak menjadi lebih sadis dari kenyataan kini yang sudah sangat getir.
Selain itu, negosiasi harga yang pantas, dapat menjadi alternatif lain. Melalui harga yang layak, pemerintah Indonesia dapat mengalokasikan dana itu untuk rehabilitasi. Reboisasi dan penimbunan kembali pulau yang nyaris tenggelam dapat dilakukan. Kesepakatan seperti ini bila terjadi, perlu diikuti komitmen yang sungguh-sungguh untuk mengalokasikan dana sesuai tujuan.
Hal seperti ini menunjukkan bahwa larangan ekspor pasir sebenarnya tidak terlalu tepat. Ada pelbagia dialog yang lebih produktif. Hanya dengan demikian, Indonesia pun tidak dirugikan, dan Singapura, tidak terlalu menari di atas penderitaan Indonesia.
Pada sisi lain, Singapura perlu menyadari bahwa permainan licik yang selama ini dilakukan sudah tidak pas dengan kesadaran ekologi yang saat ini diyakini dunia. Singapura tidak bisa menjadi “aneh”, apalagi “arogan” dan “egois” hanya karena merasa diri mampu melakukan apa saja yang ia mau. Pemikiran seperti ini semestinya sudah ditinggalkan. Sebagai negara yang kaya, dipenuhi tokoh-tokoh cerdik, ia mestinya meluaskan wawasan, menajamkan nurani, dan membuka pikiran ke arah konsep yang lebih mengglobal dan mendia. Hanya dengan demikian, kesejahteraan bersama antara negara yang juga berarti kemakmuran kawasan, dapat sekaligus menjadi jaminan bagi negara itu sendiri. Sebaliknya kemiskinan apalagi penderitaan negara tetangga, bukan mustahil juga menjadi ancaman terhadap negara kaya yang egois dan arogan

sing.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s