Bagaimana dengan judi di batam?

Wacana legalisasi judi di Kawasan Wisata Terpadu Ekslusif (KWTE) Bintan, menimbulkan kontroversi dan perdebatan tajam di tengah-tengah masyarakat. Wacana ini memantik maraknya aksi demonstrasi yang menolak dimasukkannya unsur judi di KWTE. Para penentang judi menolak judi dengan alasan bahwa judi melanggar hukum dan Undang- Undang Pasal 303 KUHP yang melarang segala bentuk perjudian di tanah air.


Pendukung kebijakan judi beralasan legalisasi judi memberikan stimulus gairah ekonomi bagi sektor pariwisata dan memberikan multi flier effect ekonomi bagi masyarakat. Pembuat kebijakan menyadari memasukkan judi di KWTE merupakan isu yang sangat sensitif yang bisa-bisa jika tidak dikelola dengan baik dapat menjatuhkan jabatan yang bersangkutan. Nasib anggota DPR asal PAN Eddie Wibowo  yang di pecat dari anggota DPR karena melakukan studi banding judi di Mesir bisa menjadi contoh nyata.
Tulisan ini tidak bermaksud menambah panas perdebatan. Penulis hanya mencoba memberikan pemikiran atau terobosan yang mungkin dapat kita pakai sebagai pembuka simpul dari perbedaan pandangan.
Alasan Penentang Judi
Judi adalah salah satu penyakit masyarakat sama halnya seperti pelacuran dan miras. Dan ini berarti sama tuanya dengan sejarah umat manusia itu sendiri. Penyakit masyarakat ini sudah ada sejak  2000 tahun sebelum Masehi. Para raja berganti raja, Kaisar berganti kaisar, Dinasti berganti dinasti, zaman berganti zaman namun penyakit masyarakat satu ini tetap lestari, walaupun semua pemerintahan yang pernah ada membuat hukuman yang keras bagi pelaku perjudian. Mengapa bisa demikian? Jawabnya karena manusia sejak lahir hingga wafat memerlukan materi untuk menopang kehidupannya. Judi adalah salah satu faktor yang bisa mewujudkan impian, keinginan dan kebutuhan sebagian manusia dalam meraih kekayaan dengan jalan pintas. Meskipun disadari kebangkrutan yang membawa kejatuhan ekonomi dan kemiskinan menjadi porsi terbesar yang dialami penjudi.
Ongkos sosial (social cost) yang ditimbulkan oleh judi sangatlah besar. Akibat tambahan yang ditimbulkannya luar biasa destruktif. Para penjudi mengidap penyakit yang dalam bahasa medis disebut ”problem and pathological (P&P) gamblers”. Studi di luar negeri menunjukkan bahwa satu hingga delapan persen dari jumlah populasi negara mengidap penyakit judi. Penelitian tahun 1999, di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 3.44 persen dari jumlah penduduk adalah pengidap  P&P gamblers. Di Australia mencapai 5 persen. Singapura 1.5 persen penyakit judi. (Dr. Gillian Koh’s, The Strait Times Review, Jan 25, 2005).
Nilai- nilai keluarga menjadi rusak oleh karena hilangnya perhatian, pondasi ekonomi keluarga roboh oleh karena kebangkrutan finansial dan etos kerja menjadi negatif menimbulkan produktivitas menurun. Dampaknya secara umum akan menghancurkan pilar-pilar keutuhan keluarga dan meningkatnya aksi kejahatan disertai timbulnya depresi dan frustasi bagi orang yang dililit masalah finansial (financial problem). Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, keluarga adalah pilar dasar mewujudkan negara sejahtera. Jika keluarga sebagai pilar dasar hancur maka kehancuran negara hanya menunggu waktu saja.
Pandangan kalangan ulama juga menjadi pandangan yang sangat dominan di Indonesia. Begitu derasnya penolakan kalangan rohaniawan karena jelas-jelas haram dan hukumnya dosa. Atau dengan kata lain zero tolerance bagi kalangan rohaniawan.
Alasan Pendukung Judi
Pendukung judi beralasan bahwa judi bisa memberikan kontribusi ekonomi yang sangat besar pengaruhnya. Di samping memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD), juga bisa menimbulkan multi flier effect ekonomi langsung bagi masyarakat. Pada era Orde Baru, walaupun Pasal 303 KUHP menjadi hukum positif, namun praktiknya judi berkembang subur seperti Porkas, SDSB, judi casino di DKI era Gubernur Ali Sadikin. Pada era reformasi judi yang dilegalkan negara tidak ada, namun judi gelap tumbuh subur dan bertebaran di hampir kota-kota besar Indonesia. Batam adalah kota yang disebut oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Liong sebagai tempat favorit warga Singapura berjudi. (Pidato PM Lee Hsien Liong National Day Rally 14 September 2004). Alasan ekonomi adalah yang terutama dikemukakan. Tidak ada alasan lain selain alasan ekonomi semata.
Singapura sebagai perbandingan
Pada pertengahan tahun 70’an, Presiden Soeharto dan PM Singapura Lee Kuan Yew bertemu membicarakan pembangunan Batam. Presiden Soeharto saat itu meminta Lee Kuan Yew mendukung rencana pembangunan Batam. Lee Kuan Yew bersedia mendukung dengan syarat tidak ada kasino di Batam. Pak Harto setuju.
Sama seperti penentang judi umumnya di Indonesia, Lee Kuan Yew juga berpendapat judi casino bisa meruntuhkan etos kerja rakyat, merusak mental dan moral, menimbulkan konflik keluarga dan memberikan dampak sosial negatif yang bisa berujung hancurnya pondasi negara.
Empat dekade kemudian, PM Singapura Lee Hsien Liong yang tak lain anak kandung Lee Kuan Yew, melontarkan kebijakan yang sangat bertentangan dengan filosofi ayahnya, yang juga saat ini menjabat sebagai mentor minister. BG Lee nama akrab Lee Hsien Liong merencanakan akan membangun kawasan judi kasino terbesar di Asia Tenggara dengan menggabungkan wisata resort. Rencana ini disampaikan BG Lee di hadapan Lee Kuan Yew, Mantan PM Goh Chok Tong, Member of Parliement, tokoh-tokoh masyarakat Singapura dalam pidato National Day Rally Singapura pada 14 September 2004. Jelas saja pidato BG Lee ini memantik pro dan kontra yang tajam ditengah-tengah warga Singapura. Kalangan rohaniawan, sarjana sosial dan ibu rumah tangga adalah penentang utama rencana BG Lee ini.
Alasan apa yang dikemukakan BG Lee kepada Lee Kuan Yew sampai-sampai Lee Kuan Yew menyetujui proposal BG Lee? Sesuatu yang sangat diharamkan pada jaman Lee Kuan Yew. BG Lee mempunyai alasan sederhana dan pragmatis. Pragmatisme merupakan karakter Lee Kwan Yew selama menjabat PM Singapura. BG Lee mengatakan banyak warga Singapura berkunjung ke Batam untuk berjudi. Jumlahnya mencapai ratusan setiap hari. BG Lee berkata dalam dunia global saat ini tidak ada lagi batas ruang dan waktu. Mustahil negara melarang setiap warga untuk bepergian ke luar negeri. Laporan intelijen melaporkan ada 10 titik kasino besar di Batam yang penuh dengan warga Singapura terutama Jumat-Minggu.
Harian Straits Times melakukan survei hampir sekitar 600 orang warga Singapura pada Jumat sampai Minggu bermain judi kasino di Batam. Atau mencapai 3000 orang setiap minggu atau 156 ribu orang setiap tahun. Jika dihitung secara matematis rata-rata penjudi menghabiskan 10 ribu dolar Singapura per tahun. Maka ada sekitar 1.56 miliar dolar Singapura atau 10.3 triliun rupiah mengalir keluar.
By hook or by crook (suka tidak suka, mau tidak mau), pemerintah harus mencari solusi mencegah massive damage akibat mengalirnya devisa negara yang bisa mengacaukan fiskal dan cash flow. Menyediakan ruang sedikit bagi penikmat judi atau menyediakan “halaman belakang rumah” sebagai tempat bermain anak nakal adalah langkah cerdik yang bisa mengeliminir aliran dana keluar. Dengan kata lain uang penjudi masuk kekantong negara. Negara bisa menggunakan uang ini untuk pembangunan dan juga merehabilitasi penjudi yang bangkrut. Lee Kuan Yew akhirnya menyerah dan mengijinkan BG Lee membuka judi casino. Saat ini pembangunan resort casino di Marina Bay dan Sentosa Island giat dikebut. Diperkirakan akhir 2009 akan beroperasi.
Bagaimana dengan kita?
Penulis menyadari isu judi sangat sensitif dan sungguh sulit meyakinkan penentang judi. Pendekatan ilmiah dan empiris tidak bisa begitu saja diterima banyak kalangan. Cara pandang penentang judi adalah hitam atau putih. Sesuatu yang dilarang agama dan hukum positif adalah final. Namun penulis mengajak kita berpikir jernih dengan tidak mengabaikan realitas bahwa ada sebagian anak bangsa di negeri ini yang beranggapan judi adalah bagian dari kultur atau bagian dari gaya hidup. Seorang teman penulis warga Singapore Mr. Leonard Ang, seorang Financial Advisor lulusan Nanyang Technology University, mengatakan mengapa sebagian etnis Tionghoa menyukai judi adalah karena judi itu identik dengan bisnis. Bisnis adalah judi dan judi adalah bisnis. Bermain judi melatih insting bisnis. “to keep your business instinct”, demikian pendapat Mr Ang.
Dari pemaparan diatas penulis berpendapat perlu dilakukannya terobosan hukum untuk melegalkan judi dengan syarat-syarat ketat. Mengadopsi regulasi Malaysia yang melarang kaum bumi putera atau muslim berjudi bisa dijadikan rujukan. Memakai cara Singapura yang membatasi penjudi harus berasal dari kalangan menengah atas juga bisa diadopsi. Alasan penulis memilih judi dilegalkan dengan syarat-syarat ketat, Pertama, mengacu penelitian Dr Gillian Koh’s dengan pendekatan moderat ada sekitar 1 persen atau 2 juta orang penduduk Indonesia penjudi aktif. Rata-rata penjudi menghabiskan 50 juta per tahun atau 100 triliun rupiah atau 10.52 miliar dolar AS uang mengalir ke luar. Jumlah uang ini setara dengan seperempat cadangan devisa Indonesia. Jumlah yang sangat besar. Bayangkan jika ini diperoleh negara maka dapat membeli minyak mentah dipasaran internasional sebanyak 131 juta barrel dengan harga 80 dolar AS per barrel. Kedua, sama seperti alasan PM BG Lee, di jaman global saat ini tidak mungkin lagi negara melarang warganya berpergian keluar negeri bermain judi. Menyediakan ”halaman belakang rumah” bagi anak bangsa yang nakal adalah langkah bijak dari pada mengimbau mereka untuk tidak berjudi keluar negri seperti Genting, Macao, Singapura.  Toh, uang yang diterima dari penjudi akan masuk ke kantong negara. Uang ini bisa digunakan oleh negara untuk pembangunan dan membangun mental dan karakter  penjudi yang bangkrut atau merehabilitasi mereka akibat terkena P&P Gamblers.

kutipan dari Birgal Hotmonang Sinaga
batam pos

One thought on “Bagaimana dengan judi di batam?

  1. ya kebijakan bisa saja berubah..munkin aja dulu perdana mentri senior itu, takut di saingin duluan.jadi dia realisasikan judi itu melalui anaknya.bisa aja kan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s