MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO

Oleh Pertampilan Sembiring Brahmana
Pendahuluan
Masyarakat Karo adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Etnis ini masuk ke dalam etnis Batak. Secara administrasi negara, Karo sebagai wilayah adalah sebuah Kabupaten dengan luas wilayah 2.127,25 Km2 atau 3,01 % dari luas wilayah Propinsi Sumatera Utara.
Akan tetapi bila membicarakan wilayah budaya masyarakat Karo secara tradisional, masyarakat Karo  tidak hanya mencakup Kabupaten Dati II Karo sekarang ini saja, tetapi mencakup kewedanaan Karo Jahe yang mencakup daerah tingkat II Deli Serdang, terdiri dari Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Biru-Biru, Kecamatan Sibolangit, Kecamatan Lau Bakeri dan Kecamatan Namorambe (Tambun, 1952:177-179), Kecamatan Kutalimbaru, Kecamatan Gunung Meriah, Kecamatan STM Hulu, Kecamatan STM Hilir, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Galang, Kecamatan Tanjong Morawa, Kecamatan Deli Tua, Kecamatan Patumbak, Kecamatan Sunggal (Brahmana, 1995:11). Di daerah tingkat II Langkat mencakup Kecamatan Sei Binge, Kecamatan Salapian dan Kecamatan Bahorok, Kecamatan Kuala, Kecamatan Selesai dan Kecamatan Padang Tualang. Di daerah tingkat II Dairi, di Kecamatan Tanah Pinem, Kutabuluh, di daerah tingkat II Simalungun di sekitar perbatasan Karo dengan Simalungun, dan di daerah Aceh Tenggara (Prop NAD). Di daerah-daerah ini banyak ditemukan masyarakat Karo.
Masyarakat Karo dan Hindu
Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi Karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah Sumatera Bagian Utara. Kemudian pengucapan kata Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama Karo.
Menurut Sangti (1976:130) dan Sinar (1991:1617), sebelum klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin menjadi bagian dari masyarakat Karo sekarang,  telah ada penduduk asli Karo pertama yakni klen Karo Sekali. Kedatangan kelompok klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin, akhirnya membuat klen pada masyarakat Karo semakin bertambah. Klen Ginting misalnya adalah petualangan yang datang ke Tanah Karo melalui pegunungan Layo Lingga, Tongging dan akhirnya sampai di Dataran Tinggi Karo. Klen Tarigan adalah petualangan yang datang dari Simalungun dan Dairi. Perangin-angin adalah petualangan yang datang dari Tanah Pinem Dairi. Sembiring diidentifikasikan berasal dari orang-orang Hindu Tamil yang terdesak oleh pedagang Arab di Pantai Barus menuju Dataran Tinggi Karo, karena mereka sama-sama menuju dataran tinggi Karo, kondisi ini akhirnya, menurut Sangti mendorong terjadi pembentukan merga si lima (Marga yang lima). Pembentukan ini bukan berdasarkan asal keturunan menurut garis bapak (secara genealogis patrilineal) seperti di Batak Toba, tetapi sesuai dengan proses peralihan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Karo Tua kepada masyarakat Karo Baru  yakni lebih kurang pada tahun 1780. Pembentukan ini berkaitan dengan keamanan, sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi pergolakan antara orang-orang yang datang dari kerajaan Aru dengan penduduk asli.
Kini hasil pembentukan klen ini akhirnya melahirkan merga si lima (klen yang lima) yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo saat ini. Akhirnya masyarakat Karo yang terdiri  dari merga si lima yang berdomisili di Dataran Tinggi,  kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitarnya, seperti ke Deli Serdang, Dairi Langkat, Simalungun dan Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahkan secara individu kini mulai menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, maupun ke luar wilayah negara Indonesia.
Tidak dapat disangkal, walaupun kebudayaan Hindu telah mengalami masa surut pada daerah di Indonesia akibat didesak oleh Islam dan Kristen, namun sisa-sisa keberadaannya yang bersifat monumental masih banyak ditemukan. Di Sumatera, di Jawa maupun di daerah lainnya, dalam bentuk fisik, masih kokoh berdiri bangunan Candi, sedangkan dalam bentuk non-fisik, seperti agama Hindu, bahasa maupun tatacara kehidupan masyarakat masih dapat ditemui pada kelompok-kelompok masyarakat Indonesia tertentu. Khusus pada masyarakat Karo, peninggalan Hindu yang paling monumental adalah marga yaitu marga Sembiring.
Marga Sembiring dan Keturunan Masyarakat Hindu
Dari sekian banyak peninggalan Hindu yang terdapat pada masyarakat Karo, barangkali yang keabadiannnya kelak melebihi usia bangunan Candi adalah marga yaitu marga Sembiring.
Sejak kapan resmi Sembiring menjadi bagian dari marga masyarakat Karo, tidak diketahui pasti. Tetapi diperkirakan Sembiring ini adalah marga yang termuda dari  lima cabang marga yang ada pada masyarakat Karo.
Sembiring berasal dari kata Si + e + mbiring. Mbiring artinya hitam. Si e mbiring artinya yang ini hitam. Melihat makna kata Si e mbiring, kiranya cukup jelas bahwa yang dimaksud adalah segerombolan manusia yang berkulit hitam. Bagi penduduk Asia Tenggara, orang-orang yang berkulit hitam ini adalah orang Tamil atau Keling yang berasal dari Asia Selatan (India).
Penyebaran atau kedatangan orang-orang Tamil ini diperkirakan tidak bersamaan waktunya. Penyebarannya secara bergelombang. Kedatangan mereka ke dataran tinggi Karo, tidak secara langsung. Boleh jadi  setelah beberapa tahun atau puluhan tahun menetap di sekitar pantai Pulau Sumatera. Mereka ini masuk ke dataran tinggi Karo, boleh jadi terutama disebabkan terdesak oleh pedagang-pedagang Arab dengan Agama Islamnya.
Brahma Putro menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan (Tanah Karo) di sekitar tahun l33l-l365 masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Laskar Madjapahit. akan tetapi ada pula yang memberikan hipotesa, penyebaran orang-orang Tamil ini akibat terdesak oleh pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus.
Orang-orang Tamil (+ pembauran) yang kalah bersaing ini lalu menyingkir ke pedalaman pulau Sumatera, salah satu daerah yang mereka datangi adalah Tanah Karo. Menurut cerita-cerita dari tetua, kedatangan mereka di Tanah Karo diterima dengan baik. Mereka disapa dengan si mbiring. Akhirnya pengucapan si mbiring  berubah menjadi Sembiring dan kemudian menjadi marga yang kedudukannya sama dengan marga yang lain.
Adapun pembagian marga Sembiring, setelah resmi menjadi bagian dari masyarakat Karo adalah sebagai berikut
No
 Sembiring
               Desa Asal (Kuta Kemulihen)
1
Kembaren
Samperaya, Liangmelas
2
Sinulaki
Silalahi, Paropo              
3
Keloko
Pergendangen, Tualang, Paropo 
4
Pandia              
Seberaya, Payung, Beganding   
5
Gurukinayan         
Gurukinayan, Gunungmeriah     
6
Brahmana            
Rumah Kabanjahe, Perbesi, Limang, Bekawar
7
Meliala              
Sarinembah, Kidupen, Rajaberneh, Naman, Munte
8
Depari               
Seberaya, Perbesi, Munte      
9
Pelawi             
Ajijahe, Perbaji, Selandi, Perbesi, Kandibata.
10
Maha                
Martelu, Pandan, Pasirtengah      
11
Sinupayung          
Jumaraja, Negeri                 
12
Colia               
Kubucolia, Seberaya               
13
Pandebayang        
Buluhnaman, Gurusinga             
14
Tekang                                      
Kaban
15
Muham            
Susuk, Perbesi                    
16
Busok               
Kidupen, Lau Perimbon             
17
Sinukaban            
Tidak diketahui lagi desa asalnya
18
Keling     
Rajaberneh, Juhar                 
19
Bunu Aji      
Kutatengah, Beganding  
20
Sinukapar           
Sidikalang, Sarintonu, Pertumbuken
Catatan: Desa asal ini dapat berarti desa yang dibangun atau didirikan oleh subklen marga tersebut, atau desa awal yang mereka tempati sejak menjadi bagian dari masyarakat Karo atau desa asal mereka dari daerah luar budaya Karo. Beberapa desa asal ini seperti Silalahi, Paropo, tidak terletak dalam wilayah Kabupaten Karo, tetapi terletak dalam wilayah Batak yang lain.
Klen Sembiring pada masyarakat tersebut di atas berasal dari dua sumber, sumber pertama yang berasal dari Hindu Tamil dan yang kedua berasal dari Kerajaan Pagarruyung. Sembiring yang berasal dari Hindu Tamil disebut Sembiring Singombak. Dijuluki Sembiring Singombak karena dahulu, apabila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, mereka tidak mengubur jenasahnya tetapi memperabukannya (dibakar) dan abunya ditaburkan di Lau Biang (Sungai Wampu). Mereka ini berpantang memakan daging anjing. Sembiring Singombak ini terdiri dari 15 sub marga yaitu Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunu Aji, Busok, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur.
Kelompok Sembiring Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan dan Keling menganggap mereka seketurunan, sehingga mereka tidak boleh mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Demikian pula dengan Depari, Pelawi, Bunu Aji dan Busok, mereka ini juga menganggap seketurunan  dan pantang mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Namun kesembilan sub marga Sembiring yang terbagi ke dalam dua kelompok ini, boleh mengadakan perkawinan sesama mereka di luar dari kelompoknya.
Sedangkan Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung terdiri dari lima sub marga yaitu Sembiring Kembaren, Keloko, Sinulaki, Sinupayung dan Bangko. Kelompok Sembiring ini juga memperabukan jenasah keluarga mereka yang meninggal dunia, tetapi abu jenasahnya mereka kubur. Bukan dibuang seperti yang dilakukan kelompok Sembiring Singombak. Mereka ini tidak berpantang memakan daging anjing.
Sama seperti kelompok Sembiring Singombak,  kelompok Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung ini  juga dilarang mengadakan perkawinan sesama mereka. Khusus untuk Sembiring Bangko. Kelompok ini sekarang berdomisili di Alas, Aceh Tenggara dan sudah menjadi bagian dari masyarakat Alas, seperti halnya para keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang menetap di Sumatera Barat sudah pula menjadi bagian dari masyarakat Minangkabau. Saat ini pada umumnya kelompok marga Sembiring ini sudah memeluk agama Kristen atau Islam dan tidak lagi memperabukan jenasahnya seperti dahulu.
Adapun penyebab lahirnya sub-sub marga ini beberapa diantaranya, diduga berasal dari nama daerah asal mereka di India. Misalnya Sembiring Pandia diduga berasal dari daerah  Pandya, Colia dari daerah Chola, Tekang dari daerah Teykaman, Muham dari daerah Muoham, Meliala dari daerah Malaylam, Brahmana dari kelompok Pendeta Hindu.
Dalam hal ini, kelompok marga Sembiring dalam masyarakat Karo, tidak memitoskan asal usulnya seperti etnis atau kelompok marga lain.  Misalnya Batak Toba, yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), atau   yang mengusul asal usulnya dan berkesimpulan dari lapisan yang paling indah yang mereka sebut Tetoholi Ana’a  yang turun di wilayah Gomo (Nias), atau yang mengkaitkannya dengan  turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu).
Dalam masyarakat Karo mitos tersebut berkaitan dengan  totem (totem yaitu  kepercayaan adanya hubungan khusus antara  sekelompok orang dengan  binatang atau tanaman atau benda mati tertentu). Misalnya  haram  mengkonsumsi daging binatang seperti Kerbau Putih, oleh subklen  Sebayang,  Burung Balam oleh subklen klen Tarigan,  Anjing oleh subklen Sembiring Brahmana.
Penutup
Dari uraian-uraian di atas, jelaslah bahwa orang-orang yang bermarga Sembiring pada masyarakat Karo pada mulanya bukanlah orang “Karo Asli”. Mereka adalah penduduk pendatang yang kemudian berbaur dengan penduduk setempat, yang akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo.     Gejala-gejala seperti ini dapat disamakan dengan  keadaan penduduk di pedesaan daerah Karo saat ini.
Di pedesaan Karo sekarang ini banyak penduduknya “bukan” lagi orang Karo tetapi sudah diisi dengan penduduk pendatang seperti dari Suku Jawa, mereka akhirnya fasih berbahasa Karo dan diberi marga dan justru lebih Karo dari individu  Karo sendiri. Artinya banyak dari mereka lebih memahami adat istiadat masyarakat Karo daripada individu Karo tersebut.
Ciri-ciri utama yang kini masih dapat dikenali dari keturunan Hindu ini adalah marganya. Marganya mengingatkan kepada asal-usulnya, tetapi bila dilihat dari fisik atau warna kulit sudah semakin sulit. Banyak yang bermarga Sembiring tidak lagi berkulit Hitam seperti asal-usulnya, malah banyak yang berkulit kuning langsat mirip bangsa lain seperti Cina.
Dalam pengertian sempit Sembiring hanyalah yang terdapat dalam masyarakat Karo, tetapi dalam pengertian luas (lebih luas) bukan hanya yang terdapat pada masyarakat Karo saja, tetapi semua keturunan yang berasal dari Asia Selatan yang sekarang  sudah membaur dengan penduduk setempat, yang ada di wilayah Indonesia. apakah itu di Aceh yang sudah menjadi bagian dari masyarkat Aceh, di Sumatera di luar masyarakat Karo yang sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat. Di Sumatera Barat seperti keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang lain yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Minang, Jambi, Riau.
Manfaat Pengungkapan Histografi Tradisional
Apa manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini? Manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini adalah untuk menunjukkan bahwa boleh jadi, apa yang kita klaim sebagai kemurnian etnis misalnya etnis X, etnis Y,  bukanlah berasal dari klaim etnis yang murni. Mereka yang mengidentifikasi kelompoknya sebagai etnis X, etnis Y kini,  dahulu kala sebenarnya boleh jadi berasal dari dukungan individu-individu  etnis lain yang berasimiliasi, membaur yang akhirnya menjadi bagian etnis X, etnis Y tersebut pada hari ini,   antara lain seperti yang terjadi pada masyarakat  Karo.
Di luar masyarakat Karo,  kasus yang sama dan hampir sama misalnya di Aceh. Dari data sejarah etnis Aceh ada pandangan yang mengatakan Aceh itu adalah akronim dari A (Arab), C (Campa), E (Eropah – Portugis) dan H (Hindi – Hindu). Pandangan ini berasal dari kemiripan bentuk fisik orang Aceh saat ini dengan bangsa-bangsa yang disebut di atas. Misalnya masyarakat Aceh yang tinggal di Kabupaten Aceh Besar, banyak yang bergelar Sayid atau Syarifah, fisik mereka menyerupai orang Arab. Masyarakat Lamno di Aceh Barat menyerupai orang Portugis, masyarakat Aceh di Sigli (Pidie) dan Lhokseumawe (Aceh Utara) banyak yang mirip India (Tamil). Di Sumatera Barat, keturunan Raja Hindu  Pagarruyung. Sedangkan di luar Pulau Sumatera, misalnya masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi ada yang berasal dari keturunan bangsa Eropah (Portugis atau Belanda). Kini para pembauran tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat etnis tersebut.
Kesadaran, pemahaman seperti ini sangat penting, agar kita sebagai individu atau sebagai kelompok tidak mudah terjebak dalam klaim kemurnian etnis, padahal dalam klaim itu ada spirit  provokasi  yang dilakukan oleh kalangan tertentu  untuk kepentingannya apakah itu atas nama etnis untuk kepentingan diri si elit, untuk kelompok si elit  atau mungkin aspirasi politik  si elit di era otonomi daerah ini khususnya dalam kepentingan pilkada atau kepentingan lainnya yang bersifat merusak spirit multikulturalisme atau pluralisme bangsa yang sudah terbangun sejak dahulu kala, sebelum Indonesia menjadi satu negara.
Kepustakaan
Anonim. 1976. Monografi Daerah Sumatera Utara. Jakarta: Depdikbud.
Bangun, Tridah. 1986. Manusia Batak Karo. Jakarta: PT. Inti Idayu Pers.
Brahmana, L.S.  1995. Menelusuri Wilayah Bahasa Karo. Medan: Tenah.
Brahmana, Rakutta S. 1985.  Corat-Coret Budaya Karo. Medan: Ulamin Kisat.
Hutauruk, M. 1987. Sejarah Ringkas Tapanuli: Suku Batak. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Neumann, J.H. 1972. Sebuah Sumbangan: Sejarah Batak Karo. Jakarta: Bharata.
Prinst, Darwan-Darwin. 1986. Sejarah dan Kebudayaan Karo. Bandung: Yirama.
Putro, Brahma. 1981. Karo Dari Jaman Ke Jaman I. Medan: Yayasan Massa.
Sebayang, R.K. 1986. Sejarah Sebayang Mergana. Medan.
Tambun, P. 1952. Adat Istidat Karo. Djakarta: Balai Pustaka.
Tarigan, Sarjani (ed). 1986. Bunga Rampai Seminar Kebudayaan Karo Dan Kehidupan Masa Kini. Medan.
Yusuf, M. Djalil. 2002. Perekat Hati Yang Tercabik. Banda Aceh-Yogya: Penerbit Yayasan Ulul Arham (YUA)  dan Pustaka Pelajar.
Penulis adalah Magister Kajian Budaya dengan Pengkhususan Sistem Pengendalian Sosial, dari Universitas Udayana Denpasar Tahun 1998 (kawarmedan@yahoo.com)
Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Jurnal Dinamika Kebudayaan, Vol VII, No. 2, 2005  yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Unversitas Udayana, Denpasar

 

Iklan

34 thoughts on “MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO

  1. waaaaa….Indonesia kaya raya ya?
    sering-sering posting ginian. Jadi belajar sejarah n antropologi ya?
    asik bgt ne…

  2. berarti aslinya abang satya hitam ya?
    ko di foto keliatan putih?
    ini yang salah kameranya ato mata saya yang salah liat? hehe 🙂

    udah gak seperti india karena udah campuran, tapi tampannya masih seperti sharul khan heheheh

  3. Hmmm….jd pacarQ keturunan India-Hindu y?Hehe…pacarQ marganya sembiring mas, sekarang dia lagi di Medan (emang dr dulu di Medan..hehe)…PacarQ masih hitam tugh…haha…

  4. Hahahaaha… (ngakak abissss sambil megang perutnya) 😛 semalam pacarQ membahas masalah dan sejarah marga sembiring ini (pdhl khan udah baca di sini, tp demi menghargai, Qdengerin sambil manggut2 aj) sampe akhirnya ketiduran dech…hehe… cowQ manisnya kayak buah manggis yang udah bonyok..hahaha..sssttt!! jgn blg2 mas… 🙂

  5. mangis bonyok dah busuk dong. jadi di jaga juga supaya tetap segar
    carnya masukkan dalam kulkas. kalo menjaga pacarnya tetap manis masukkan dalam hati dan penuh kasih sayang

  6. Hahahaha….’Pak’ Satya—‘Bu’ Yella—‘Mbak’ Sarah
    Ntugh beda-na…hehe.. 😛 Anggap aj..si bungsu lg br mo belajar…gitchu…
    Ho’oh si sembiringQ itu hebbat, jd satu2nya cowokyg bs bkn Sarah sampe pusing n kopral jungkir balik…ada ilmu-na’ kali sembiring y??! hahahahaha…:D

  7. aku rondongnya sarah….kam sembiring kai senina..??? aku sembiring kembaren…mejuah-juah..

    aku sembiring meliala senina, sarah enggo cinta mati man bandu… walaupun mbiring nina hehehehhe, tapi sembiring enda ma itam manis nge buen ma bage

  8. Hello all..Istri saya boru Sipayung dari Simalungun..Dia mengatakan bahwa merga Sembiring adalah sodara dengannya..bahkan beberapa keluarganya yang pindah dari Simalungun ke Tanah Karo banyak yang berganti dari Sipayung ke Sembiring krn sama aja alias sodara..

    Bisakah bung Satya bantu menjelaskan hubungan antara Sembiring dengan marga-marga dari Silahisabungan seperti Sipayung,Silalahi dll krn Sembiring juga masuk dlm Marga turunan Raja Silahisabungan…

    Terima Kasih & GBU!!

  9. Hebat juga ya, tambah bangga sebagai Suku Karo. Apalagi “Simupus takal piher adalah Nande Biring” Sembiring Sinulaki. Salam.

    bujur ras mejuah juah. salam man keluarga i ja pe kena tading.

  10. Cowo ku, marga nya juga Sembiring. Tapi karna aku bukan batak jadi masalah dech. Mama nya belom setuju. Dia harus merit dengan cewe Karo juga!!!!!

    Mama nya juga gk mau ketemu ma aku, sekedar kenal dulu gitu. Emang kalo aku nekad, main kerumahnya (bareng cowoku), dibilang kurang ajar ya?

    Knp sih seperti itu? Setidaknya semua mahluk di muka bumi kan sama.

    namanya juga orang tua. adat masih mengikat mereka.
    mungkin mereka tidak suka latar belakang Rika. sebenarnya tidak semua orang Batak seperti itu
    kalo yang masih kuno ya memang. adat adalah adat. tapi cinta tidak ada kaitannya dengan adat.
    sekarang apakah pacar Rika lebih mencintai adat dari pada Rika? kalo memang pacar rika itu bisa memberi penjelasan ke ortunya jalanin aja.
    tpai satu hal juga yang rika perlu tau.
    mungkin orang tuanya pacar rika sudah terikat dengan janji dengan sang paman cowok.

  11. Terima Kasih banyak untuk informasinya…benar-benar memberikan pencerahan…saya banyak belajar tentang budaya saya sendiri ^_^

    thk sudah mampir di sini. dan semoga bermanfaat

  12. Aku kebetulan Ketua merga Sembiring Tekang ras anak beruna na se dunia… he…. he belum semua mendaftar; saat ini Kodya Medan sudah berdiri 4 tahun (HUT 17-1-09) yad angg sudah 56 KK; akan di pestakan di Sei Rokan No.100 (rumah anakberu layari kaban); mohon yang merasa merga Sembiring Tekang atau beberenya dapat menghub saya di 08196001961, bujur

  13. Beh Ternyata Aku turunan orang keling to hakahakahakaha
    thx bgt ne infonya jadi ngerti aku apa arti dan silsilah dari embel2 yang ada di belakang namaku hehehehe bujur……

    bujur senina. jam kam gundari janah ja kuta kemulihen ndu?

  14. michael:
    Michael Girsang

    Hello all..Istri saya boru Sipayung dari Simalungun..Dia mengatakan bahwa merga Sembiring adalah sodara dengannya..bahkan beberapa keluarganya yang pindah dari Simalungun ke Tanah Karo banyak yang berganti dari Sipayung ke Sembiring krn sama aja alias sodara..

    Bisakah bung Satya bantu menjelaskan hubungan antara Sembiring dengan marga-marga dari Silahisabungan seperti Sipayung,Silalahi dll krn Sembiring juga masuk dlm Marga turunan Raja Silahisabungan…

    Terima Kasih & GBU!!
    =============
    Krn bang Satya blm bls, aq ikut nimbrung, Lae. Setahu saya, mnrt Ortu, sebagian perantau dari Pagarruyung memang tertinggal di Silalahi (paropo), Simalungun, dan ada yang terus ke Karo.
    Tapi Girsang juga marga Simalungun loh. Jangan lupa ya!
    Ok?

    suudah lama saya tidak buka blog ini. maaf untuk jawabannya saya tidak dapat memberikan kepastian tapi dalam sililah sembiring terdapat berberapa marga turunan seperti meliala,gurusinga, kolia dan juga termasuk sembiring silalahi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s